REVIEW MAKALAH MOCHTAR LUBIS - MANUSIA INDONESIA: SEBUAH PERTANGGUNGJAWABAN


Judul Buku : Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban)
Jenis Buku : Makalah/ Ceramah, 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki-Jakarta
Jumlah Halaman : 135 Halaman
Tahun Terbit : 1978 by Yayasan Idayu


"Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas.
Siapa itu orang atau manusia Indonesia?
Apa dia memang ada?
Di mana dia?
Seperti apa gerangan tampangnya?"

-

Di makalah 135 halaman ini Mochtar Lubis memaparkan potret potret kebobrokan dari manusia Indonesia menurut pandangan kritisnya. Buku yang kontoversional di zamannya ini disarikan dari naskah ceramahnya pada 6 April 1977, di TMII Jakarta, yang kemudian disebut sebagai Pidato Kebudayaan. Disebut-sebut kontoversional sebab keseluruhan dari buku ini Mochtar Lubis mengkritik tajam kehidupan sosial manusia indonesia di tahun 1977 yang bisa dibilang sedang tidak terjadi konflik yang begitu berarti. Beliau dengan pedas menguak dengan berani keburukan-keburukan dan sifat-sifat dari manusia Indonesia dalam makalahnya yang dibagi menjadi 10 bab ini. Enam sifat terserbut di paparkan sebagai berikut:
Ciri Kesatu
“HIPOKRITIS Alias MUNAFIK. Berpura pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama,”
Ciri Kedua
                “Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya dan sebagainya.”
Mochtar Lubis mengritik habis-habisan bangsa indonesia yang tengah hidup di dalam sebuah kemunafikan. Mengenai seks, di depan umum begitu mengecam penghidupan seks yang terbuka atau setengah terbuka dari luar negeri tapi sendirinya kita mengatur mengenai tempat-tempat prostitusi, melindunginya, menjamin keamanan sang prostitut maupun pelanggan dengan berbagai sistem. Kemudian betapa Manusia indonesia tengah tenggelam di tengah kebohongan atas korupsi dan perilaku ABS (Asal Bapak Senang) yang dapat ditemui di seluruh lapisan masyarakat. Dia ikut memaki-maki korupsi tetapi di sendiri seorang koruptor. Seolah karakter bangsa indonesia yang bersatu padu mengusir penjajah tidak dapat ditemui lagi.
Ciri Ketiga
Bersikap dan berperilaku feodal. Betapa manusia indonesia begitu menjunjung tinggi kekuatan dan kekuasaan yang harus dihormati. Segala sesuatu yang berhubungan dengan yang berkuasa, harus dihormati mereka yang berada di bawah kuasa. Hal ini dapat dilihat dari gambaran populer pada zaman itu ketika untuk menelfon atasan perlu janji dan dianggap kurang sopan. Yang sopan menurut feodal manusia indonesia adalah jika kita ingin menemui atasan maka kita harus menunggu dan perlu menunggu. Semakin lama waktu menunggu maka semakin besar pula gengsi sang atasan. Kemudian disini Mochtar Lubis juga memberikan penggambaran dari rakyat melayu yang dilarang memakai kuning, adalah warna kekuasaan raja, diri raja, dan keluarga raja. Begitu pula dengan benda-benda miliknya, seperti pedang, keris, dan kesaktian khusus.
Ciri Keempat
Manusia Indonesia masih percaya takhayul. Hal ini dilihat melalui data data sejarah dan tradisi bangsa indonesia. Mistisisme, yaitu berlatar belakang dari agama manusia indonesia sendiri adalah animis dan spiritis hingga membuat ia mempertahankan hal-hal supra natural dari agama aslinya tersebut. Manusia masih banyak yang percaya pada benda-benda disembah untuk memperoleh berkah.
Ciri Kelima
                Artistik. Disini Mochtar lubis menuliskan gambaran populer tentang manusia indonesia menurut pandangan orang asing. Artistik manusia indonesa bagi Mochtar Lubis merupakan yang paling menarik dan memiliki pesonannya sendiri. Turis-turis mancanegara mengakui keindahan nuansa artistik manusia Indonesia sendiri. Terbukti dari koleksi tembaga, tenun, batik, patung batu dan ukiran kayu, dan lain lain yang diboyong ke luar tanah air.
Ciri Keenam
                Indonesia punya watak yang lemah, Karakter yang kurang kuat. Hal menjadikan manusia Indonesia cepat berubah prinsipnya,  seiring dengan tekanan yang ia dapatkan dari luar dirinya.
Ciri Lainnya
Di bab ini berisikan sifat-sifat negatif lainnya yang belum disebutkan di keenam bab di atas yaitu seperti tidak suka bekerja keras, gampang cemburu dan dengki, malas, dan tukang tiru. Namun dibalik lain manusia indonesia juga memiliki sifat berhati lembut, suka damai, dan rasa humor. Di akhir bab, Mochtar Lubis menyebutkan perlunya penguasaan ilmu dan teknologi. Namun, karena keduanya membawa kekuasaan yang tak pernah netral, manusia Indonesia harus hati-hati dalam menggunakannya.
Kemudian di bab berikutnya diberi judul Dunia Kini, Mochtar Lubis membahas hubungan antara ekonomi, sumber daya alam, dan teknologi terhadap kesejahteraan sebuah bangsa. Beberapa kasus yang disajikan untuk memberikan gambaran tentang bagaimana pengelolaan ketiganya bermuara terhadap kesejahteraan atau keterpurukan sebuah bangsa. Yang paling utama adalah bagaimana banyak negara di dunia, termasuk Indonesia, sekarang masih sangat tergantung pada negara-negara besar dalam hal teknologi, pengelolaan SDA, dan sistem ekonomi sehingga sangat mudah diatur dan dimanfaatkan. Mochtar Lubis menekankan betapa pentingnya untuk menjadi mandiri dengan cara memaksimalkan kemampuan bangsa Indonesia karena senyatanya kita tidak bisa benar-benar lepas dari sistem dan jaringan ekonomi internasional. Bagian terakhir, yaitu kesimpulan, berisi berbagai saran Pak Mochtar untuk berbagai bidang penghidupan mulai dari kesenian sampai sikap keseharian.
Beberapa tanggapan yang disajikan Mochtar Lubis ini dirangkum dalam sebuah bab berjudul “Tanggapan-tanggapan Tanggapan atas Tanggapan”. Mochtar Lubis menjawab tanggapan-tanggapan yang dilayangkan dalam tulisannya tersebut. Umumnya Mochtar menyayangkan tidak cermatnya beberapa penulis tanggapan tersebut dalam membaca teks pidatonya sehingga tidak bisa menangkap esensinya.
Pandangan Mochtar yang menyentil banyak pihak itu, walau terkesan subjektif, namun tetap dikemas bersama data-data faktual di jamannya, argumen yang kokoh, serta narasi yang lugas. Walau terkesan menghakimi, kapasitas Mochtar sebagai budayawan dan jurnalis, seolah mentasbihkan naskah pidatonya menjadi objektif dan akurat.
Satu nilai tambah dari buku yang sebenarnya sudah sangat berbobot ini adalah karikatur halaman sampul buatan G. M. Sidharta. Ya, siapa yang tidak tahu Om Pasikom? Karakter rakyat sahaja yang menjadi ikon sebuah media besar di Indonesia ini digambarkan sedang memandangi wajahnya di kaca yang buram. Disitu dia terlihat memikirkan sesuatu. Memikirkan bagaimana tampak wajah sesungguhnya. Karikatur ini seolah mempertegas kalimat pertama di buku Mochtar, "Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas."

-

“Bagaimana keluar darinya? Dengan berdaya upaya agar kehidupan bangsa kita jangan terlalu banyak tergantung dari mereka, dengan memobilisasi sumber-sumber manusia, dana dan alam kita sebaik-baiknya dan seefisien yang dapat kita lakukan, dengan berhemat sampai menghitung sen, menghentikan sama sekali korupsi, dan memusatkan usaha dan pengabdian kita pada perbaikan penghidupan rakyat kita.
“Kita pasti tidak sepenuhnya dapat melepaskan diri dari sistem dan jaringan ekonomi, keuangan dan perdagangan internasional yang selama ini telah kita masuki dengan membuka pintu tanah air kita seluas-luasnya pada mereka. Akan tetapi kita masih dapat melakukan daya upaya untuk membikin sesuatu hempasan yang mungkin timbul, jangan terlalu keras menghempaskan kita.”






Source: 

Komentar

  1. Terimaksih banyak atas informasinya kak, saya sangat terkesan dengan isi buku yang satu ini, dan semoga kedepanya bangsa kita bisa jadi lebih maju dan berkualitas pastinya.

    semangat terus nge blog nya kak aku dukung 100% : )

    BalasHapus

Posting Komentar